![]() |
Ilustrasi-Yang satu begadang sampai jam dua pagi, yang lain tidur, pacaran, dan siap bilang “makasih ya”. Di sampul makalah, semuanya tetap kebagian nama. (Vira/Rencang.id) |
Fenomena ini sering disebut numpang nama dan terjadi hampir setiap semester. Seseorang tidak berkontribusi, tapi namanya tetap gagah tercantum di sampul makalah dan ikut kebagian nilai. Enak? Jelas. Adil? Nanti dulu.
Kerja Kelompok: Yeay atau Duh?
Ketika ditanya apa yang terlintas saat mendengar kata “kerja kelompok”, jawaban mahasiswa nyaris seragam, dan nadanya bukan “yeay”.
“Duh, kerja kelompok lagi. Males banget kalau orangnya itu-itu terus, nggak ada yang kerja, akhirnya cuma satu orang yang dibebani,” ujar Indah, mahasiswa KPI semester 5 konsentrasi Broadcasting.
Difa Zulfa, teman satu angkatannya, lebih terus terang. Baginya, tugas individu jauh lebih menenangkan karena tidak perlu mengatur orang lain. “Kerja kelompok itu harus ngatur orang, orangnya susah diatur, lemot, ada yang nggak kerja,” katanya.
Tapi tidak semua menyerah pada kelompok. Nisa, mahasiswa KPI semester 3, mengaku senang sekaligus was-was. Senang karena ada teman mencari jurnal bareng, was-wasnya muncul kalau dapat rekan yang tidak punya inisiatif. "Kalau sendiri, aku agak struggle," tuturnya.
Dari Motor Bocor sampai Nemenin Nenek
Setiap korban punya koleksi alasan yang pernah mereka dengar dari para “penumpang nama”. Isinya kreatif.
Salma, mahasiswa semester 5, hafal betul daftarnya. “Motorku bocor, ban nya gembos. Atau tiba-tiba, “aku nggak bisa, aku nemenin nenek,” ujarnya. Alasan terakhir itu ia nilai setengah masuk akal, setengahnya lagi tidak. Menurut Salma, yang paling bikin emosi adalah penumpang yang kontribusinya cuma di awal. “Cuma nanya “ini gimana?”, habis itu nggak tahu ke mana.”
Inas, mahasiswa KPI semester 3, punya dua kasus sekaligus dalam satu kelompok. Yang pertama beralasan magang, yang kedua anak band. “Kalau nggak di-tag, nggak muncul. Bilangnya mau ngerjain bagian tertentu, ujung-ujungnya bilang nggak bisa, terus ngilang,” katanya.
Sementara Nabil, mahasiswa baru KPI semester 1, menyimpan kekesalan yang lebih spesifik. “Dia nggak kasih alasan, cuma hilang. Tapi sering kelihatan lagi sama pacarnya,” ujarnya. Menurut Nabil, kalau alasannya kerja atau urusan keluarga, ia masih bisa memaklumi. Nisa mengalami hal serupa di semester pertamanya, temannya membawa pacar saat kerja kelompok. “Sebenarnya kami nggak masalah kalau dia ikut bantu nyari materi. Tapi yang dia lakuin malah pacaran,” tutur Nisa. “Kalau nggak disuruh, dia nggak bakal nyari materi. Itu pun kayaknya hasil dari AI juga.”
Ada juga alasan klasik lain. “Biasanya kerja, ada kegiatan organisasi, atau rumahnya jauh nggak bisa sampai malam, harus pulang,” kata Indah.
Yang Ngerjain Sendiri, yang Ucap Makasih Nggak Ada
Kisah paling panjang datang dari Difa. Pada mata kuliah semester 4, kelompoknya diminta membuat buku brand lengkap dengan desain. Di awal, semua semangat. Menjelang tenggat, brand belum juga diputuskan, dan begitu sudah ditentukan, tak ada yang antusias mencari bahan.
“Akhirnya aku yang beli produknya, foto produknya, ngedesain bukunya, nge-print, sampai ngumpulin sendiri,” tuturnya. Yang bikin makin getir, sebagian anggota bahkan tidak membayar iuran cetak. “Setelah selesai dikumpulin, mereka nggak ada yang bilang makasih. Nggak ada penyesalan sama sekali.”
Kalau Salma lebih tenang. Ia bilang, jika semua anggota sudah berusaha, sedikit-sedikit tetap bisa dimaklumi. Yang tidak bisa dimaklumi adalah hilang tanpa kabar. “Biar kita nggak saling fitnah, nggak saling suuzan. Kalau ada apa-apa bilang,” ujarnya.
Soal porsi kerja, Indah menyebut angka sekitar 70 persen dari total tugas yang biasanya ia tanggung. Angka itu belum tentu dari kelompok yang paling parah. Karena anggota lain tidak bisa, ia terpaksa “double job”. “Daripada nggak selesai, nilainya kan jadi gitu.”
Nilainya Sama Semua. Yang Kerja Hanya Bisa Tersenyum
Plot twist-nya ada di pengumuman nilai. Indah, misalnya, mengaku agak tidak terima ketika nilai semua anggota ternyata sama. “Dia nggak kerja, tapi hidupnya enak banget. Kita susah payah. Dia cuma numpang nama doang,” katanya.
Salma bahkan menyebut sekali dalam hidupnya pernah dapat kelompok yang adil, itu pun hanya sekali. Soal nilai seragam, ia mengaku keberatan di dalam hati. "Ya nggak adil, tapi namanya satu kelompok, mau gimana."
Difa mengalami hal yang lebih menyakitkan. Di salah satu mata kuliah, ia merasa paling banyak bekerja, tetapi teman-temannya mendapat A-, sementara ia sendiri menerima C. Ia sempat protes ke dosen. "Sebel banget. Udah mati-matian ngerjain sendiri, malah dapat nilai jelek."
Kenapa Nggak Lapor Dosen?
Pertanyaan ini hampir selalu dijawab dengan satu kata: sungkan. "Belum pernah lapor dosen. Aku juga ngerasa nggak enak sama anak-anak yang lain. Tapi anak-anak lain juga tahu aku nggak enakan, jadi mereka enakin. Jadi dimanfaatkan,” kata Difa.
Inas pernah mengambil langkah berbeda. Di kelompok yang memiliki dua penumpang sekaligus, ia melaporkan hal itu ke dosen. Ia bahkan menyampaikan bahwa nama anggota yang tidak berkontribusi boleh dihapus dari makalah. “Kalau emang sampai mendekati hari-H dia belum ada kontribusi, dihapus aja namanya nggak apa-apa,” ujarnya.
Pilihan Nisa justru sebaliknya. Meski rekannya lebih sibuk pacaran, namanya tetap ditulis karena menurutnya masih ada kontribusi. “Bukan yang literally nggak ngebantu sama sekali,” tuturnya.
Korban yang Kadang Jadi Pelaku
Menariknya, batas antara korban dan pelaku tidak setegas kelihatannya. Salma menyebut dirinya netral. "Bisa jadi korban, bisa jadi pelaku, tapi seringnya korban," ujarnya. Inas punya pengakuan senada: ia lebih sering menjadi korban, tapi pernah merasa jadi pelaku.
Pengakuan Indah lebih jujur lagi. Ia bisa jadi pelaku karena balas dendam. "Pengin lihat aja orangnya kerjanya gimana. Kalau dia nggak bisa, baru aku handle," katanya.
Difa juga pernah menjadi "penumpang", tapi dengan alasan lain. Di mata kuliah statistika, ia mengaku sama sekali tidak paham dan merasa menjadi beban. "Datanya harus dimasukin ke SPSS, pakai rumus-rumus, aku bener-bener nggak ngerti. Aku merasa jadi beban kelompok," ujarnya. Teman-temannya pun sebenarnya sama bingungnya.
Pengakuan Sang "Penumpang"
Dalam penelusuran ini, kami juga menemui seorang mahasiswa semester 5 KPI yang mengaku pernah menjadi pelaku. Sebut saja Rafi (nama samaran).
Alasannya tidak sepenuhnya soal malas. Ia bekerja, dan jam kerjanya biasanya sampai malam. “Jam 11 malam. Kadang sampai nggak sempat buka WA,”katanya.
Ada alasan lain yang jarang terungkap: takut salah. "Takut beda pendapat terus disalahkan. Lebih baik diam," ucapnya.
Ia bukan tanpa kontribusi sama sekali. Menurutnya, ia kadang membantu mencari materi, jurnal, atau referensi. Namun ia juga mengaku pernah berada di posisi yang hanya mengucap "makasih" ketika tugas selesai dikerjakan teman lain. "Merasa bersalah dikit lah. Senangnya banyak, salahnya dikit," katanya sambil tertawa. Meski begitu, ia mengakui yang lebih capek adalah orang yang mengerjakan.
Ketika ditanya apakah ia mau dicap sebagai penumpang gratis, jawabannya tegas. "Nggak terima. Pasti ada kontribusi walaupun dikit."
Kata Dosen: Saya Punya Sistem
Lalu bagaimana pandangan dosen? Dr. Muhammad Fahmi, M.Si., dosen mata kuliah Islam dan Budaya Jawa (IBJ), mengaku tidak tahu persis siapa saja yang numpang nama. Tapi ia punya cara sendiri untuk mengetahuinya, hasil pengalaman lebih dari dua puluh tahun mengajar.
Caranya: storytelling. Setiap kelompok diminta menuliskan cerita proses pengerjaan tugas, siapa melakukan apa. "Di situ kelihatan siapa yang terlibat dan bekerja apa. Itu bahan bagi saya untuk menentukan nilai," ujarnya.
Ia mencontohkan, jika seseorang bertugas melakukan wawancara, ia akan memeriksa transkripnya. Kalau bagiannya dokumentasi, ia akan menilai kualitas dokumentasinya. Storytelling juga punya efek lain: ia bisa menjadi penanda tulisan itu karya manusia, bukan hasil AI. "Di situ ada kata 'aku' atau 'kami'. Itu kan tidak mungkin AI," katanya.
Tak hanya itu, Fahmi mencatat peran tiap mahasiswa saat presentasi, mulai dari presentator, moderator, hingga penanya. Partisipasi di kelas juga dihitung. Dari catatan itu, nilai bisa dinaikkan atau diturunkan. Tujuannya satu: keadilan. "Misalnya total nilai kelompok 100 poin, mayoritas nanti dialihkan ke mereka yang berperan paling banyak. Mereka perlu lebih diapresiasi daripada yang cuma titip nama," katanya.
Fahmi mengakui bahwa penilaiannya tidak sepenuhnya mulus. Ada pertimbangan suka dan tidak suka (like and dislike) yang ia sebut sebagai bagian dari ikhtiar. "Walaupun belum sempurna, ikhtiarnya ada supaya rasa keadilan itu bisa terwujud," ujarnya.
Pesan untuk Para Penumpang
Para korban punya satu pesan, dengan nada yang bervariasi dari sopan sampai sarkas.
"Sadar diri. Jangan ngilang, terus pas nilainya keluar malah marah-marah," kata Salma.
"Tolong, minimal hadir. Bantuin dikit lah. Kamu kuliah, aku juga kuliah," ujar Nabil.
Difa lebih lugas. "Kalau memang malas, bilang dari awal. Daripada numpang tapi bikin kesel, mending nggak usah ikut kelompok sekalian."
Indah menutup dengan kalimat paling menohok. "Kalau kamu prioritasin kerja, ya mending kerja aja daripada kuliah. Kita kuliah itu bayar lho. Jangan seenaknya."
Sedangkan dari sisi penumpang, pesannya jauh lebih singkat "Makasih."
Jadi, Gimana?
Kerja kelompok memang masih punya penggemar. Nisa tetap memilih kelompok, Salma menilai peluang suksesnya 50-50, dan Difa sudah lama angkat tangan. Pada akhirnya, seperti kata Salma, tugas kelompok itu “ringan kalau dapat kelompok yang benar, tapi jadi beban kalau dapat yang nggak benar”.
Dan selama sistem penilaian belum benar-benar bisa memisahkan siapa yang begadang dan siapa yang cuma kirim stiker, budaya numpang nama tampaknya akan terus diwariskan dari angkatan ke angkatan. Selamat untuk kita semua, yang lulus dengan predikat sangat sabar.
Penulis : Vira Mukaromah
Editor: Fatimah Az-Zahra
