Culture Shock Mahasiswa Luar Pulau Jawa Berkuliah di Solo: Cerita dari Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta

 

Ilustrasi-Berbagai tantangan dan culture shock yang sering kali menjadi cerita berkesan bagi para pendatang baru di tanah rantau.(Gemini Generated by Zalsabila)

Solo tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga tempat menuntut ilmu bagi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Perbedaan bahasa, makanan, kebiasaan, hingga budaya membuat sejumlah mahasiswa perantau mengalami culture shock ketika pertama kali tinggal dan berkuliah di kota ini.

Beragam kebudayaan di Solo membuat para perantau tertarik mengenal kehidupan masyarakat setempat lebih dalam. Namun, perbedaan bahasa dan kebiasaan kerap menjadi tantangan tersendiri dalam berkomunikasi dengan warga lokal.

Dari pengalaman sejumlah mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta yang berasal dari luar Pulau Jawa, ada banyak hal yang membuat mereka kaget, bingung, sekaligus takjub selama tinggal di Solo. Mulai dari harga makanan yang murah, rasa masakan yang cenderung manis, hingga istilah-istilah yang berbeda dari daerah asal mereka.

1. Murah sampai Bikin Kaget

Bagi sejumlah mahasiswa dari luar Jawa, harga kebutuhan sehari-hari di Solo terasa bersahabat. Wawa, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam asal Palembang, mengaku kaget karena harga makanan di Solo lebih murah dibandingkan di daerah asalnya. “Wah, ternyata di sini masih murah-murah ya harganya, hehehe,” ungkapnya saat diwawancarai melalui WhatsApp (02/10/26).

Farah, mahasiswa Pendidikan Agama Islam asal NTB, menambahkan saat diwawancarai  melalui WhatsApp (02/10/26), bahwa ongkos kirim barang di Solo juga relatif murah. “Jadi bisa checkout terus, hehe,” ujarnya. Bagi mahasiswa perantau, harga yang terjangkau tentu menyenangkan, terutama ketika uang kiriman dari rumah harus bertahan hingga akhir bulan.

2. Sambal Pun Manis

Selain harga, cita rasa masakan Solo juga membuat mahasiswa perantau terkejut. Beberapa di antaranya kesulitan menyesuaikan lidah dengan makanan khas Solo yang cenderung manis.

Makanan manis yang banyak mendominasi di kota solo membuat Wawa merasa hampir semua makanan di kota ini memakai kecap. “Makanan di Solo dominan manis semua. Walaupun kita sudah pesan level yang paling pedas, menurutku masih manis. Kayak apa ya, mereka menambahkan kecap di semua makanan, kah?”

Hal serupa dialami Lintang, mahasiswa PGMI asal Palembang, saat diwawancarai melalui WhatsApp (02/10/26). Menurutnya, sambal di Solo pun terasa manis. “Lagi sambal be manis, sampai sekarang lidah belum bisa nerimo,” katanya. Ia mengaku masih rindu gulai pindang masakan rumah.

3. Malam Tirakatan dan Gang yang Mendadak Ditutup

Tradisi masyarakat Solo juga menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa perantau. Wawa kaget melihat sejumlah gang ditutup menjelang perayaan 17 Agustus dan sempat bingung dengan aktivitas warga tersebut. Setelah tahu bahwa kegiatan itu bagian dari tradisi malam tirakatan, ia justru tertarik. “Oh, ternyata ada tradisi kayak gitu ya di sini,” ujar Wawa.

4. “Ke Arah Barat, Ya, Mbak”

Menunjukkan arah dengan mata angin ternyata lazim bagi sebagian masyarakat Solo. Bagi Wawa, kebiasaan ini sempat membingungkan. “Kan aku enggak tahu ya arah barat, timur, selatan. Jadi aku kaget, gue culture shock, Bos, hahaha. Aku enggak terbiasa dengan itu, jadi kaget banget,” ungkapnya.

Ia belum terbiasa membedakan barat dan timur sehingga kesulitan mengikuti petunjuk jalan berbasis mata angin. Kondisi ini membuatnya harus lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan dan jalanan Solo.

5. Belajar Slow Living dan Berhenti Membunyikan Klakson

Ritme hidup di Solo juga menjadi pengalaman baru. Lintang heran melihat lalu lintas yang relatif tenang. Saat lampu merah berlangsung lama atau terjadi kemacetan, ia jarang mendengar pengendara membunyikan klakson. “Di Palembang, macet sedikit saja sudah ramai bunyi klakson” ujarnya.

Ila, mahasiswa Psikologi Islam asal Makassar, juga merasakan ritme hidup yang lebih santai di Solo. “Yang bikin kaget sampai di Solo tuh sebenarnya karena orangnya terlalu apa ya, terlalu slow gitu, slow living banget. Sedangkan di kehidupan aku tuh enggak gitu, jadi emang agak culture shock-nya di situ,” kata Ila saat diwawancarai melalui WhatsApp (02/10/26).

6. Katanya Burjo, Mana Bubur Kacang Hijau?

Istilah lokal pun menjadi sumber cerita lucu. Dian, mahasiswa Psikologi Islam asal Papua, sempat mengira “burjo” adalah tempat yang menjual bubur kacang hijau. Setelah datang langsung, ia baru tahu bahwa burjo adalah tempat makan sederhana dengan beragam menu, bukan khusus penjual bubur kacang hijau. Saat diwawancarai melalui WhatsApp (02/10/26), Dian mengungkapkan, “Aku kira burjo itu orang yang jualan bubur kacang ijo. Ternyata burjo itu kayak warmindo, nggak ada yang jualan bubur kacang ijo atau sejenisnya.” Pengalaman itu masih ia ingat sebagai salah satu cerita lucu selama tinggal di Solo.

7. Ewuh Pakewuh dan Salah Paham Lintas Bahasa

Perbedaan cara berkomunikasi juga menjadi tantangan. Khofifah, mahasiswa Bimbingan Konseling Islam asal NTT, terbiasa menyampaikan sesuatu secara langsung. Di Solo, ia pernah mengalami temannya merasa sungkan berbicara langsung kepadanya. Karena ewuh pakewuh, temannya menyampaikan pesan lewat orang lain.

“Karena dia enggak ngomong langsung ke kita, jadinya kita tuh mikirnya kayak dia ngejelek-jelekin nama kita,” tutur Khofifah melalui WhatsApp (02/10/26). Situasi itu sempat membuatnya salah paham dan mengira dirinya sedang dibicarakan.

Beda cerita dengan Rindu, mahasiswa PGMI asal NTB, yang punya pengalaman hampir serupa. Ia pernah salah mengartikan kata “isin” sebagai “izin”, padahal dalam bahasa Jawa artinya malu. “Pernah ada kating yang ngomong isin, kita kira dia mau izin, eh ternyata isin artinya malu,” cerita Rindu sambil tertawa saat diwawancarai melalui WhatsApp (02/10/26).

8. Solo Ternyata Tidak Sesejuk Bayangan

Sebelum tinggal di Solo, Rindu membayangkan kota ini sejuk dan adem. Kenyataannya, cuaca Solo cukup panas. “Waktu saya belum ke Solo, saya bayangin Solo itu sejuk, adem. Ternyata nggak seadem dan sesejuk itu, hawanya lumayan panas juga,” ucapnya.

Ia juga baru menyadari bahwa Solo tidak punya pantai. “Waktu sampai di Solo, ternyata di sini nggak ada pantai. Kalau mau ke pantai, ternyata harus ke Jogja dulu.”

             Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kehidupan di tempat baru tidak selalu sesuai bayangan sebelum merantau. Perbedaan makanan, bahasa, kebiasaan, hingga cara berinteraksi menjadi tantangan sekaligus proses adaptasi bagi mahasiswa luar Pulau Jawa di Solo. Seperti pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, perbedaan tersebut justru menjadi kesempatan bagi mereka untuk belajar dan mengenal budaya baru.


Penulis: Zalsabila Alfirdausia
Editor: Fatimah Az-Zahra 

Lebih baru Lebih lama