![]() |
| Mahasiswa dicegah duduk di bangku yang telah ditandai barang milik satu circle.(Farizan/rencang.id) |
Fenomena
titip bangku antar-circle masih menjadi pemandangan yang cukup sering
ditemui dalam kehidupan perkuliahan. Biasanya, mahasiswa yang datang lebih awal
akan memilih beberapa tempat duduk untuk teman satu circle yang belum
datang. Menaruh barang seperti buku, tumbler atau barang lain di
bangku sebagai tanda bangku tersebut sudah ”dipesan”.
Kebiasaan
ini memang sering dilakukan sebagai bentuk kekompakan dan solidaritas
antarteman. Namun, di sisi lain, praktik tersebut juga dapat menimbulkan
persoalan ketika banyak bangku sudah ditempati oleh barang, sementara mahasiswa
lain yang datang lebih awal justru harus mencari tempat duduk yang tersisa.
Situasi inilah yang kemudian memunculkan perbedaan pandangan mengenai batas
antara solidaritas pertemanan dan penggunaan fasilitas bersama di ruang
perkuliahan.
Kebiasaan
titip bangku antar-circle masih menjadi hal yang cukup sering ditemui
di lingkungan perkuliahan. Mulai dari datang lebih awal untuk mengamankan
tempat hingga meminta teman menjaga bangku sebelum kelas dimulai. Rencang Dotid
UIN Raden Mas Said Surakarta mencoba melihat lebih dekat kebiasaan ini melalui
pandangan mahasiswa.
Menurut
Ummi Nurlatifah (21), mahasiswa Psikologi Islam angkatan 2024, fenomena ini
tidak menjadi masalah selama tidak merugikan orang lain.
"Sebenarnya
kalau disebut circle agak lucu ya, karena kami cuma berdua, aku dan
temanku. Karena sering bareng, jadi nyaman saja. Semisal temanku itu ingin
duduk di depan, ya sudah tidak apa-apa. Cuma selama ini kami selalu berdua dan
kebetulan yang sering datang duluan itu pasti aku, karena temanku itu
'langganan' terlambat," ujarnya.
Ummi
menambahkan bahwa kenyamanan menitip bangku ini terjadi karena adanya
komunikasi. "Kenapa terasa nyaman titip bangku? Ya, karena kalau ada tugas
yang tidak dipahami atau mau diskusi, gampang dan enaknya sama dia. Sebenarnya
sama teman yang lain bisa, cuma kurang nyaman atau kurang sreg saja,"
tambahnya.
Namun,
ia tetap menghormati mahasiswa lain. "Kalau memang ada orang yang datang
lebih dulu dan ingin duduk di tempat yang sudah aku tandai, karena hak orang
yang datang duluan lebih utama, kami juga harus mempersilakan tempat itu,"
tutupnya.
“Menurut
saya pribadi, titip bangku tidak apa-apa, tetapi jangan sampai mahasiswa yang
datang lebih dulu kehilangan kesempatan mendapatkan tempat duduk yang
diinginkan. Jika memang ingin duduk bersama teman, sebaiknya datang lebih awal
secara bersamaan. Dengan begitu, hubungan pertemanan tetap terjaga, tetapi
mahasiswa lain yang datang lebih awal juga tetap dihargai,” kata Latifah
Rahmadani Oktaviana, 19, mahasiswa Pendidikan Agama Islam 2025.
Latifah
menilai praktik titip bangku terkadang sudah berlebihan ketika jumlah bangku
yang dititipkan mencapai lebih dari tujuh. Kondisi tersebut membuat mahasiswa
yang datang lebih awal tidak mendapatkan tempat duduk yang diinginkan dan
strategis untuk fokus kepada dosen dan papan tulis.
Menurut
E (20), persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan tempat duduk, tetapi
juga cara mahasiswa menyampaikan ketika meminta orang lain berpindah tempat.
“Kalau
memang ingin duduk bersama teman itu wajar, tetapi tetap harus melihat kondisi
kelas dan menghargai mahasiswa lain yang juga memiliki hak untuk mendapatkan
tempat duduk. Situasi ini bisa membuat kita merasa kurang dihargai sebagai
sesama mahasiswa,” katanya.
