![]() |
| ilustrasi - choffe shop menjadi rumah kedua bagi gen z (Farizan/rencang.id) |
Kalau kita berbicara tentang Gen Z, kurang lengkap rasanya kalau tidak menyangkutpautkan dengan aktivitas "ngopi". Coffee Shop udah jadi rumah kedua buat anak-anak Gen Z, tapi kenapa ya, kalau orang tua atau generasi terdahulu suka mikir nongkrong di kafe itu cuma buang-buang uang dan waktu, wajar sih.
Tapi jujur saja, sudut pandang itu udah kurang relevan di zaman sekarang. Karna buat Gen Z, kegiatan ngopi ini bukan cuma soal minum cairan berwarna hitam manis berkafein, tapi juga investasi kenyamanan, pelepas penat dan mengurusi mental health yang kacau ini.
Kalau saja rukun Islam bisa ditambah, mungkin bagi Gen Z pergi ke coffee shop menjadi salah satu kewajiban. Lucu memang Gen Z ini, 25k buat ngopi itu bisa dikatakan murah loh, tapi admin transfer Rp2.500 itu dianggap kemahalan lucu sekali.
Ada alasan kuat loh, kenapa coffee shop selalu penuh sama Gen Z dari pagi sampai malam. Pertama, soal dinamika kerja dan kuliah yang makin fleksibel. Kalau bahasa kekiniannya WFA atau kerja di mana saja, karna bikin batas antara ruang pribadi dan profesional jadi samar.
Mau ngerjain revisi skripsi atau deadline kantor di rumah kadang bikin jenuh dan gampang terdistraksi dengan kasur. Beda halnya dengan kedai kopi mereka memfasilitasi Wi-Fi yang kenceng, stopkontak melimpah, dan AC dingin otomatis jadi workspace paling ideal dan nyaman daripada di rumah. Di sana, efek melihat orang lain sama-sama sibuk juga bisa memicu motivasi kita buat sama produktifnya.
Kedua, coffee shop juga berfungsi sebagai third place atau ruang ketiga, tempat transisi antara rumah (ruang pertama) dan tempat kerja/kampus (ruang kedua). Hidup Gen Z itu serba cepat, belum lagi tekanan ekspektasi masa depan dan paparan media sosial yang tiada henti. Nongkrong sambil seruput kopi favorit di tempat dengan interior ciamik dan playlist musik yang pas rasanya kayak tombol pause sejenak dari keribetan dunia.
Ketiga, ngopi adalah ajang buat menyambung koneksi nyata. Walaupun Gen Z dicap sebagai generasi serba digital, kita tetap butuh interaksi fisik tatap muka. Ketemu teman, curhat soal hidup ataupun masalah percintaan, ngobrolin ide bisnis baru, dan sekadar duduk bareng tanpa harus banyak bicara itu rasanya beda banget dibanding cuma kirim chat atau video call. Soalnya terkadang curhatan kita di chat itu kerap kali cuma di read doang, kalo enggak ya korban rata kanan.
Terakhir nih, nggak bisa dipungkiri ada faktor ekspresi diri. Coffee shop sekarang punya konsep dan estetika yang beragam. Memilih ngopi di tempat tertentu, secara nggak langsung jadi cara Gen Z menunjukkan selera, gaya hidup, dan identitas visual mereka di media sosial.
Jadi, kebiasaan ngopi Gen Z itu bukan sekadar gaya-gayaan atau boros semata. Ini adalah cara adaptasi generasi muda untuk cari keseimbangan antara produktivitas, kesehatan mental, dan kehidupan sosial di tengah dunia yang makin riuh dan amburadul.
Editor: Roviah Nurul Afifah
