Jadi Wartawan Itu Sekolah Gratis, Kata Dosen yang Sekarang Punya Roastery Sendiri

 

Ivanovich Aldino mengamati proses pemanggangan biji kopi menggunakan mesin roasting di Kandang Kopi Roastery. (Enggar/Rencang.id)

Kandang Kopi Roastery adalah tempat lahirnya kopi robusta dan arabika dari tangan mantan seorang jurnalis. Pemiliknya, Ivanovich Aldino, biasa disapa Pak Ivan di lingkungan kampus. Dosen yang terkenal dengan ketegasan dan kedisiplinannya saat mengajar ini ternyata memiliki kisah unik di baliknya. Saat ini Pak Ivan mengajar di UIN Raden Mas Said Surakarta.

Sebelum mendarat di ruang kuliah dan menjelma sebagai dosen yang ditakuti mahasiswa saat mengumpulkan tugas, Pak Ivan adalah seorang pemburu berita. Ia pernah malang melintang di dua dapur redaksi media besar: Solopos dan Brilio Jogja. Namun, setelah berhenti dari dunia jurnalisme, jarum kompas hidupnya bergeser. Namanya juga mantan wartawan, tangannya tidak betah menganggur. Di sela mengajar, beliau bergulat dengan pertanian kopi dan roastery.

Usaha yang beliau bangun sejak 2024 ini baru berumur sekitar satu setengah tahun. Saat ini Kandang Kopi Roastery lebih fokus pada B2B, yakni menyuplai biji kopi untuk kedai-kedai lain, sementara kedai sendiri masih dalam tahap persiapan. Pagi-pagi buta, sebelum melangkah ke kampus, Pak Ivan sudah lebih dulu akrab dengan deru mesin roasting dan semerbak kopi yang menyeruak. Barulah setelah urusan hulu hingga hilir kopi beres, ia berganti peran menjadi dosen tegas di hadapan mahasiswanya.

Satu hal yang bikin dahi berkerut tapi bikin dompet tersenyum adalah harga kopinya. Kandang Kopi Roastery mematok kopi robusta premium hanya sekitar Rp25.000 per 100 gram. Kok bisa semurah itu? Jawabannya ada pada rantai pasok (supply chain) yang dikuasai sendiri. Pak Ivan punya kebun kopi di Temanggung. Karena punya kebun sendiri dan mesin roasting rakitan sendiri, ia bisa memangkas jalur distribusi dan menentukan harga jual yang tetap ramah di kantong tanpa harus takut rugi.

Kalau dulu kerjanya berburu foto dan berita, sekarang Pak Ivan sibuk berburu hujan. Saat hujan belum turun beberapa pekan terakhir ini, kebun kopinya di Temanggung sedang diuji krisis iklim yang nyata. Jika panen terbaiknya dulu pernah menyentuh 1,7 ton, tahun ini hasilnya bahkan tidak sampai 1 ton. Pak Ivan mengaku sering deg-degan sendiri menunggu datangnya hujan sebelum tunas kopi berbunga. Kemarau yang terlalu panjang membuat daun-daun berguguran dan tanaman seolah tinggal pasrah. Kendati demikian, dari tanah tempat ia merawat harapan itulah lahir biji-biji kopi berkualitas yang ditanam, dipupuk, dan diolah dengan tangannya sendiri.

Bagi Pak Ivan, kopi fine (berkualitas) bukan sekadar soal petik merah. Ada proses panjang di baliknya: pemangkasan (pruning), pemupukan, pengaturan pH tanah, pengendalian hama, hingga teknik pencucian dan penjemuran yang presisi. Banyak orang mengklaim kopinya fine hanya karena fisiknya kelihatan bagus, padahal pembuktian paling jujur ada pada rasa di cangkir. Menariknya lagi, mesin sangrai yang ia pakai bukan mesin pabrikan mahal, melainkan hasil rakitan sendiri yang digarap bersama sepupunya di tempat pengecoran baja dengan teknologi potong laser (laser cutting). Pak Ivan menegaskan, kopi itu tricky: suhu boleh sama, tetapi hasil akhir bisa jauh berbeda.

Lalu bagaimana seorang jurnalis sekaligus dosen bisa begitu paham ilmu meracik kopi? Menurut beliau, kecintaannya pada kopi sudah ada sejak masih menjadi jurnalis. Dulu, saat turun ke lapangan meliput berbagai peristiwa, ia kerap mendapatkan ilmu gratis dari orang-orang hebat yang ditemuinya. Makanya, ia sering bilang bahwa jurnalisme itu ibarat “sekolah gratis”, tempat kita bisa memulung pengetahuan dari orang-orang dengan ragam passion yang berbeda. Ketika kami tanya apakah beliau masih mencintai dunia jurnalistik, jawabannya singkat: masih, sampai sekarang.

Begitulah kisah biji kopi yang lahir dari tangan seorang wartawan yang dulu mencari berita dan kini menanam serta memupuk di kebunnya sendiri. Kandang Kopi Roastery bukan sekadar memproduksi kopi, tetapi merawatnya sejak ditanam, dipanen, hingga tersaji di cangkir pelanggan.

Penulis:  Zalsabila Alfirdausia
Editor: Safira Maharani






Lebih baru Lebih lama