Antara Kuliah, Kerjaan dan Kartu Hidup yang makin tipis

 

Ilustrasi - mahasiswa yang sedang bekerja sambil kuliah (Farizan/rencang.id)

Pernah nggak, kamu duduk di kelas jam 7 pagi dengan mata setengah terbuka, bukan karena begadang ngerjain tugas, tapi karena baru pulang kerja shift malam jam 00:00? Kalau pernah, selamat. Kamu resmi jadi anggota tak tertulis dari komunitas besar bernama mahasiswa Kuliah sambil kerja, anggotanya banyak, tapi jarang dapat jaket almamater khusus. Di UIN Raden Mas Said Surakarta, orang-orang seperti ini nyata adanya. 

Ada yang jadi barista di kafe daerah Purwosari, ada yang jadi waiters di resto-resto dan ada juga yang driver ojol dengan jadwal kuliah ditempel di wallpaper hpnya. Alasannya macam-macam, ada yang memang butuh biaya UKT, ada yang pengen mandiri atau beli barang barang yang disukai, dan ada juga yang cuma pengen ngopi gratis tanpa nunggu kiriman bulanan dari rumah.


  1. Jam yang saling bertabrakan

Tapi masalah pertama selalu soal waktu. Jadwal kuliah itu seperti pacar, kadang tiba-tiba berubah tanpa kabar. Pagi kosong, siang ada kelas, sore ternyata dosen minta ganti jam. Sementara bos di tempat kerja nggak mau tahu soal itu. Bagi mereka, shift ya shift , alasan “Pak, dosen saya mendadak nyuruh cari kelas pengganti,” belum tentu masuk di daftar alasan yang bisa diterima manajemen. Yang bikin nyesek, kelas pengganti sering diumumkan lewat grup WA malam untuk pagi atau paling parah sejam sebelum kelas dimulai. Buat mahasiswa biasa, itu cuma gangguan kecil. Buat mahasiswa pekerja, itu kayak diminta main catur sambil ditabrak motor.

  1. Tugas kelompok adalah ujian tingkat dewa

Kalau ada satu hal yang bikin mahasiswa pekerja ingin pindah ke goa, itu tugas kelompok. Biasanya diskusi diadakan “ kita sore kumpul di kampus ya.” Padahal sore dia sudah harus lari ke tempat kerja. Alhasil, mahasiswa pekerja sering jadi anggota kelompok yang kontribusinya lewat jalur online, ngerjain bagian masing-masing jam 1 malam, kirim revisi pas jam istirahat, dan minta maaf berkali-kali karena nggak bisa ikut kumpul. Padahal bagiannya sering selesai duluan, tapi di mata sebagian teman, yang tampak cuma “kok nggak pernah ikut kumpul?” Nggak ada yang lihat bahwa dia sedang nyicil hidup, bukan nyicil absen.

  1. Tidur jadi pelarian ternyaman

Mahasiswa pekerja punya relasi unik dengan tidur, sering ketemu cuma sebentar, itu pun di kelas. Jangan salahkan kalau ada yang kepalanya mulai manggut-manggut pas dosen menjelaskan teori yang panjangnya mengalahkan sinetron. Itu bukan tanda nggak menghargai, itu murni tubuh yang sedang mengajukan komplain resmi, dan jangan lupa soal kopi. Bagi mereka, kopi bukan lagi gaya hidup, melainkan bahan bakar operasional. Kalau ada yang bilang kopi itu mahal, mereka akan menjawab pelan: “Tapi lebih mahal kalau nilai saya jeblok gara-gara ngantuk.”


            Tapi, ada juga sisi terangnya

Biar nggak melulu mengeluh “nanti dikira kurang bersyukur”, ada hal-hal yang diam-diam jadi bekal berharga. Mahasiswa pekerja biasanya lebih jago manajemen waktu, lebih tahan banting, dan lebih paham nilai uang. Mereka tahu rasanya capek yang bermakna, bukan capek karena rebahan. Soft skill yang dilatih lewat pekerjaan itu sering lebih nyata daripada yang dipelajari di slide presentasi seminar motivasi, dan banyak dari mereka lulus dengan percaya diri yang beda, bukan karena IPK paling tinggi, tapi karena sudah tahu rasanya bertahan.

Jadi mau apa? nggak muluk-muluk, mahasiswa pekerja nggak minta dikasihani, mereka cuma berharap ada sedikit fleksibilitas jadwal kuliah yang diumumkan lebih awal, dosen yang lebih terbuka soal komunikasi dan tugas, sistem bimbingan yang bisa lebih fleksibel seperti online atau jam alternatif, dan teman sekelas yang paham bahwa nggak semua orang punya kemewahan waktu luang. Kalau kampus bisa sedikit lebih ramah pada mereka, bukan nggak mungkin mahasiswa pekerja ini justru jadi duta terbaik lulusan yang tahu susahnya hidup tapi tetap berdiri tegak. Terakhir, buat kamu yang sekarang sedang baca ini sambil nunggu jam istirahat atau di sela antrean pelanggan, semangat, ya. Kamu nggak sendirian. Di suatu sudut kampus atau kafe di Solo, ada mahasiswa lain yang juga lagi ngetik tugas pakai satu tangan, sementara tangan satunya bawa nampan.

Salam hormat dari sesama pejuang kuliah dan cicilan hidup.


Penulis: Jayadi Anung Kusuma

Editor: Safira Maharani

Lebih baru Lebih lama