![]() |
| Massa mahasiswa memadati kawasan Monumen Slamet Riyadi, Gladag, Solo, saat menggelar aksi unjuk rasa. (Fais/Rencang.id) |
SOLO — Kamis (22/10/2026) sore, kawasan Perempatan Gladag, Solo, mendadak riuh. Ratusan mahasiswa berjaket almamater hijau toska dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) bergerak dari arah Balai Kota Surakarta, lalu melingkari area monumen.
Di kaki Monumen Slamet Riyadi, massa aksi menyulut ban bekas. Dalam hitungan detik, asap hitam pekat membumbung tinggi, membelah langit sore di salah satu titik perlintasan paling padat di Kota Solo tersebut.
Aksi unjuk rasa ini digelar sebagai bentuk panggung evaluasi kritis mahasiswa terhadap arah kepemimpinan nasional dan efektivitas berbagai kebijakan publik. Bagi mahasiswa, situasi sosial-ekonomi masyarakat saat ini membutuhkan koreksi mendasar dari pemerintah.
Koordinator Aksi Aliansi BEM UNS, Hasan Yusnindar, menyampaikan bahwa pergerakan mereka berfokus pada tiga aspek utama: evaluasi penyelenggaraan pemerintahan, peninjauan ulang prioritas anggaran publik yang dinilai belum berpihak pada pemenuhan hak dasar rakyat seperti pendidikan dan pemulihan ekonomi bawah, serta penanganan krisis lingkungan hidup dan dampak proyek strategis nasional di daerah.
"Kehidupan masyarakat dan rakyat Indonesia akhirnya tidak diperhatikan karena adanya program-program prioritas yang dijanjikan. Karena itu, hari ini kami satu suara menyuarakan aspirasi ini secara tegas," ujar Hasan di tengah kepulan asap ban.
Kehadiran massa di perempatan jalan sempat membuat arus lalu lintas dari arah Jalan Slamet Riyadi menuju Jalan Jenderal Sudirman tersendat. Meski demikian, situasi di lapangan tetap terkendali.
Kapolresta Surakarta, AKBP Condro Sasongko, yang memantau langsung di lokasi, menegaskan bahwa kepolisian memilih pendekatan pengawalan yang persuasif tanpa pembatasan ketat. Pihaknya mengapresiasi penyampaian pendapat yang dilakukan secara tertib oleh massa mahasiswa.
Aksi berakhir menjelang petang. Setelah menyampaikan seluruh poin orasinya, massa membubarkan diri secara teratur selepas Magrib, meninggalkan sisa jelaga di permukaan aspal Gladag yang perlahan kembali dipadati kendaraan bermotor.
Penulis:Fais Abdul Mu'iz
