The Jeblogs, bukti bahwa Karang Taruna bukan cuma ngurusin Agustusan.


Penampilan The Jeblogs pada acara KPI’s Day #11
di UIN Raden Mas Said Surakarta. (HMPS KPI/Rencang.id)
Selama ini kita terlalu meremehkan karang taruna. Di kepala kebanyakan orang, karang taruna itu soal panitia agustusan, jaga parkir kondangan, sinoman atau rapat di pos ronda yang bahasan utamanya adalah siapa yang beli gorengan. Jarang ada yang membayangkan dari sana lahir band rock dengan lirik yang puitis.

Lalu muncul The Jeblogs dari Klaten. Mereka dibentuk tahun 2016 oleh anak-anak karang taruna Desa Jeblog, dan sekarang bisa manggung sampai ibu kota. Kalau dipikir-pikir, ini jalur karier yang absurd tapi masuk akal.

Mari kita bayangkan rapat pembentukannya. Bukan di studio yang mahal, tapi di balai desa atau teras rumah salah satu anggota mereka, ditemani teh anget dan gorengan untuk memulai obrolan. Tidak ada konsultan branding. Yang ada cuma sekelompok pemuda yang sama-sama suka musik dan mengide untuk, "Ayo wis, ngeband wae."

Mereka awalnya cuma cover dari band-band terkenal seperti Nirvana, The Strokes, Ramones. Ketiga band ini kira kira dasaran band yang ingin mereka mainkan dengan penuh energi, bukan dengan gengsi. Chord-nya gak ribet, sikapnya mentah, dan kalau salah nada, penonton tetap loncat. Bahkan kemarin tanggal 18 September mereka sempat manggung di kampus UIN Raden Mas Said Surakarta kita untuk acara KPI's Day #11.

Bagian paling menarik dari The Jeblogs bukan musiknya melainkan fakta bahwa mereka tidak malu membawa nama desanya. Banyak band kita yang begitu mulai naik langsung sibuk mencari nama yang terdengar Londo, atau minimal ada kata the dan club biar kelihatan internasional. Mereka justru membawa nama Jeblog ke mana-mana. Itu keberanian yang tidak semua orang punya, karena nama desa itu lucu di telinga orang kota, dan mereka tahu itu, dan tetap saja jalan.

Kita sering mengira skena musik itu hanya hidup di Jakarta, Bandung, atau Jogja yang sudah punya nama. Padahal band bisa lahir dari mana saja, termasuk dari desa kecil yang kalau dicari di peta kamu harus zoom sampai mata perih. Yang dibutuhkan cuma beberapa orang yang nekat, satu set alat yang entah dipinjam dari mana, dan penonton tetangga yang rela jadi saksi pertama mereka membawakan karyanya.


Penulis: Jayadi Anung Kusuma 
Editor: Safira Maharani
Lebih baru Lebih lama