Duduk di teras depan rumah.
Angin malam sudah memenuhi isi perut,
menjadi santapan tanpa harga.
Dengan secangkir kopi hitam sisa kemarin.
Uang cuma sisa sepuluh ribu.
Otak berputar, merencanakan hari esok.
Mencari jalan keluar ke sana kemari,
menyusunnya bersama kopi hitam yang perlahan kehilangan hangatnya.
Lalu aku bercerita kepada Tuhan, meminta dicarikan jalan untuk sekedar bertahan melewati hari esok.
Biarpun dinginya angin malam menusuk paru-paru, dan
kopi hitam di hadapanku yang telah lama dingin tanpa kulkas,
Aku tak akan menyerah untuk hari esok.
#ADIOS...
Penulis: Enggar Singgih Pangestu
Editor: Roviah Nurul Afifah
Tags
SASTRA
